Obrolan dengan Seorang Transgender, Setahun Yang Lalu ...

Selasa, 01 Desember 2009

Idul Adha setahun yang lalu, beberapa jam setelah melahirkan Syahid, kurang lebih jam segini - hampir setengah dua belas malam - seseorang menelpon ke nomor CDMA saya. Nomor tak dikenal. Dan jam setengah dua belas malam setelah melahirkan, rasa-rasanya tak ada lain yang ingin dilakukan selain: tiduur ... Sempat berpikir, kalau orang ini mau bertahniah, mengucapkan selamat, kok ya tega banget ...

Beberapa kali nada panggil hingga mati sendiri, tak urung telepon itu saya angkat juga. Khawatir ada berita penting. Siapa nyana, suara di ujung sana berbisik begini:

"Tante ... lagi kesepian niy ..."

Suaranya kemayu, khas cara bicara seorang transgender (tiada maksud labelling, tapi saya tak jumpa padanan yang lebih halus).

Sempat tertegun. Hati bolak balik menyuruh antara "matikan saja!" ataukah "biarkan saja. Dengarkan dulu dia bicara...". Ini sungguh situasi yang aneh, tapi pada akhirnya saya ambil pilihan yang terakhir.

"Tante, saya lagi nggak ada yang nemenin, niy ..."

Saya tak ingat detail obrolan itu. Tapi saya ingat hanya merespon dengan lebih banyak bertanya: Siapa namanya? Darimana tahu nomor telepon saya? (yang kemudian dia jawab, dia menelepon/memencet nomor sekenanya saja, memanfaatkan fasilitas gratis karena provider CDMA yang sama. Masya Allah ... hopeless sekali anak itu ...).

Tak sekalipun saya sergah jawabannya dengan mengatakan bahwa "tante" yang diteleponnya ini sedang terbaring di klinik bidan karena baru beberapa jam lalu melahirkan.

Obrolan itupun tak panjang. Intinya, dia sedang butuh uang. Dia bekerja di Salon X (namanya dia sebutkan, dan saya pernah wawancara pemilik salon - seorang transgender juga - waktu dulu meliput kontes Miss Waria. Mungkin juga anak ini mendapat nomor telepon saya dari situ). Dia bersedia 'menemani' tante-tante kesepian - maupun om-om kesepian (duh!) - tentu dengan imbalan, tergantung suara siapa yang dia dengar di ujung telepon.

Sungguh, saya jadi jatuh kasihan pada anak itu.

Tapi sayang - hingga kinipun masih saya sesali - saya kurang sabar. Capek meladeni obrolan yang masih berputar-putar pada "minta ditemani" itu, akhirnya obrolan saya tutup dengan, "Dik, maafkan saya, tapi tolong 'cari korban' lain saja ya ...". Lalu ponsel saya matikan.

Kalimat penutup yang tidak bijak, saya tahu.

[inilah mengapa postingan ini saya masukkan dalam label dakwah ... Karena seharusnya saya bisa lebih mendengarkan. Sekaligus kenangan Hari AIDS bersama para transgender di gedung PKK ...]

(Mungkin Tak Sengaja) Melupakan Hajar

Jumat, 27 November 2009

Harus sebanyak mungkin mengumpulkan persangkaan baik, mengapa pahlawan perempuan tidak menonjol dalam khazanah siroh Islam.

Sebagaimana terjadi setiap Idul Adha, nama Hajar timbul tenggelam dalam khutbah-khutbah hari raya atau sms ucapan Idul Adha, atau update status jejaring. Padahal ketauladanan bukan hanya berasal dari Ibrahim as. atau Ismail as. Perempuan luar biasa seperti Hajar seharusnya juga dikenang agar jadi inspirasi perempuan-perempuan modern.


Bersyukur, Ustadzah Herlini Amran menghadirkan artikel ini. Silakan klik situs ini untuk sumber sahihnya.


[nyala semangat agar muslimah juga bisa ke depan - semata dalam kerangka kebaikan - mudah-mudahan tak membuat ada mata-mata terpicing karena alasan: feminis banget sih .... Kalaupun itu tak terhindarkan, yaa ... Allah Maha Tahu]


Idul Qurban dan Kepahlawanan Perempuan

Mengenang kembali peristiwa besar yang telah diukir oleh nabi Ibrahim dan putranya Ismail, berarti mengingat pula seorang sosok perempuan yang tidak kalah hebatnya dengan Nabi Ibrahim dan nabi Ismail. Ya, dia adalah Siti Hajar. Peristiwa yang kita kenal dengan Idul Qurban tersebut tidak hanya mengajarkan tentang sebuah pengorbanan, ketaatan tetapi juga ketulusan dan keikhlasan seorang perempuan menunaikan perintah Allah. Semua dilakukan atas nama cinta dan ketaatan kepada Tuhannya.

Ketika Ibrahim di titahkan Allah untuk mengorbankan Ismail, maka Ibrahim mentaatinya. Cinta dan keimanan menepiskan semua keraguan. Ismail dengan kesabaran dan keimananya, merelakan dirinya untuk di korbankan sesuai perintah Allah swt. Setelah nyata ketaatan dan pengorbanan Ibrahim beserta Ismail, di detik detik penyembelihan, Allah swt menggantinya dengan hewan sembelihan, yang kemudian menjadi dasar di syariatkannya ibadah kurban.

Keikhlasan Ismail tentunya tidak semata-semata lahir begitu saja. Tapi ada sosok perempuan yang membentuk Ia menjadi lelaki yang tegar dan penuh kesalihan. Didikan penuh keikhlasan dan kepasrahan dari Ibundanya ini memberi pengaruh positif atas keikhlasan Nabi Ismail menerima perintah Allah melalui ayah kandungnya sendiri untuk menyembelihnya. "Pada mulanya adalah Hajar, seorang perempuan, yang pulang pergi antara bukit Shafa dan Marwah untuk mencari air bagi anaknya. Tuhan kemudian memberinya pertolongan dengan memancarkan air dari bawah tanah yang disebut "tha'am tha'm", makanan orang
yang kelaparan dan "syifa' saqam", obat bagi penyakit.(Ibnu Katsir, Tafsir, I/199)

Penggalan kisah Siti Hajar adalah kisah perjuangan dan ketawakalan. Ali Syari'ati mengidentifikasi Hajar dengan sejumlah identitas sosial lebih lengkap: "Ia seorang perempuan yang bertanggungjawab. Ia seorang ibu yang mencinta, sendirian, mengelana, mencari dan menanggungkan penderitaan serta kekhawatiran, tanpa pembela dan tempat berteduh, terlunta-lunta, terasing dari masyarakatnya, tidak mempunyai kelas, tidak mempunyai ras dan tidak berdaya. Ia seorang budak yang kesepian, seorang korban, seorang asing yang
terbuang dan dibenci".(Ali Syari'ati, Haji, hlm.47).

*Siti Hajar:Simbol Kepahlawanan*

Hajar adalah sosok perempuan yang berperan sangat besar bagi sebuah kehidupan manusia dan semesta. Hajar adalah potret seorang Ibu yang membesarkan anaknya sendirian. Sesudah melahirkan seorang bayi laki-laki bernama Ismail, Hajar ditinggal Ibrahim sendirian di tempat yang gersang dekat "Rumah Tuhan". Al Qur-an menyebut "bi wadin ghairi dzi zar'in ‘inda baitika l-muharram", (di lembah gersang di samping rumah-Mu yang dimuliakan). Sebuah padang tandus, tanpa penghuni dan tetumbuhan.

Dalam keadaan usia yang tak lagi muda, Siti Hajar dan Ismail ditinggalkan Ibrahim. Ibu Ismail segera membuntutinya dan berkata: 'Hai Ibrahim, pergi kemana engkau dan engkau tinggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan apa-apanya ini?' Hajar menyampaikan pertanyaan itu kepada Ibrahim berulang kali, sementara Ibrahim tidak menoleh kepadanya sama sekali. Lalu Hajar bertanya lagi: 'Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan perbuatan ini?' Ibrahim menjawab: 'Ya.' Hajar berkata: 'Kalau demikian
halnya, tentu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.' Kemudian Hajar kembali (ke Baitullah).
Menurut satu riwayat: 'Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau tinggalkan kami?' Ibrahim menjawab: 'Kepada Allah.' Hajar berkata: 'Aku pasrah kepada Allah.'" (HR Bukhari)

Bukan hal yang mudah bagi seorang istri merelakan suami meninggalkannya. Apalagi dalam kondisi penuh keterbatasan. Bukan hal yang mudah pula membangun keikhlasan diantara alasan Ibrahim yang mungkin tak bisa dilogikakan. Tapi begitulah Hajar. Mencoba menata semangat hidup dilandasan keyakinannya kepada Allah. Selepas ditinggalkan Ibrahim, Hajar berlalri-lari mencari sumber mata air antara Safa dan Marwah. Dan akhirnya Allah alirkan mata air melalui hentakan kaki-kaki kecil Ismail.

*Dimensi Moral, Sosial dan Spiritual*

Hari raya Qurban tidak semata-mata sebuah perayaan belaka. Hari raya ini memiliki dimensi moral, sosial dan spiritual. Inilah bukti hanya bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta. Islam mengakui konsep persembahan kepada Allah berupa penyembelihan hewan, namun diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan bersih dari unsur penyekutuan terhadap Allah. Islam memasukkan dua nilai penting dalam ibadah qurban ini, yaitu nilai historis berupa mengabadikan kejadian penggantian qurban nabi Ibrahim
dengan seekor domba dan nilai kemanusiaan berupa pemberian makan dan membantu fakir miskin pada saat hari raya. Ketika tidak semua masyarakat kita bisa mengkonsumsi daging, hari Idul adha menebarkan daging kurban untuk berbagi.

Dalam hadist riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Zaid bin Arqam, suatu hari Rasulullah ditanyai "untuk aapa sembelihan ini?" belian menjawab: "Ini sunnah (tradisi) ayah kalian nabi Ibrahim a.s." lalu sahabat
bertanya:"Apa manfaatnya bagi kami?" belau menjawab:"Setiap rambut qurban itu membawa kebaikan" sahabat bertanya: "Apakah kulitnya?" beliau menjawab: "Setiap rambut dari kulit itu menjadi kebaikan".
Memaknai nilai spritualitas dari penyembelihan hewan qurban berarti membunuh sifat-sifat hewaniyah dan syaitaniyyah yang bersarang di dalam dirinya, dengan tetap mempertahankan sifat-sifat kemanusiaan dan ke-Tuhanan.

Kondisi saat ini menuntut adanya pendalaman spiritualitas yang lebih mengingat sifat-sifat kemanusiaan yang mulai mengikis digerus zaman.

Dalam kisah Ibrahim pula, posisi Hajar dan Sarah dalam konteks moral adalah kerelaan Sarah membagi suaminya. Seandainya tanpa "izin" Sarah, Ibrahim tidak akan meminang Hajar untuk dijadikan sebagai isteri kedua. Poligami Ibrahim yang bertujuan untuk ikhtiar memperoleh keturunan pada awalnya adalah bagian dari pengorbanan Sarah yang rela memberikan suaminya demi harapan keturunan dari Hajar.

Di seluruh rangkaian Idul Adha, tidak lepas dari peran dan pengorbanan seorang Siti Hajar, baik sebagai seorang istri, seorang ibu maupun sebagai perempuan. Pengorbanannya tidak kalah dahsyat dengan pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail. Pesan moral penting lainnya adalah tentang ketaatan, tanggungjawab, ikhtiar dan besarnya tawakal serta keyakinan terhadap Allah.

Semua ini tidak akan lakukan Siti Hajar, jika ia tidak memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi. Di percakapan terakhirnya dengan Ibrahim ia berkata" aku pasrah kepada Allah". Betapa istimewanya siti Hajar bahkan Nabi Muhammad pernah bersabda, "Semoga Allah memberkahi ibu Ismail."

by Hj. Herlini Amran, MA


***

Mantabb bukan?

Situs Porno Yang Punya Rank >50

Senin, 09 November 2009

Seorang teman guru (di sebuah sekolah dasar islam), menceritakan dengan keprihatinan mendalam betapa sejumlah anak didiknya begitu mudah mendownload gambar-gambar porno di ponsel mereka. Yang tak kalah mengenaskan, siangnya belajar agama, tapi sore sepulang sekolah mengajak teman-temannya buka internet untuk mengintip situs-situs porno.

***

Lagi capek ngikutin perkembangan Bibit-Chandra ...

Kembali ke concern asal dulu ah.

6 Situs Porno yang Paling Banyak diakses di Indonesia. Judulnya sih serem, tapi artikel di http://nusantaranews.wordpress.com/ ini (silakan klik di sini) justru merupakan warning bahwa Indonesia kini menjadi salah satu negara pengakses situs porno terbesar di dunia.

Betapa banyak yang penuh harap pada Uwak Tifa ...

Menyederhanakan

Jumat, 06 November 2009


Farid Gaban, dengan segala kredibilitasnya, sekali lagi bisa memberikan sudut pandang berbeda dalam isu yang segemuruh kasus KPK, Century, Bibit-Chandra. Berikut saya salin dari milis jurnalisme Selasa (2/11/09).

Kuroda,

Terima kasih telah mengirim posting di bawah ini, berkaitan dengan keganjilan polisi dalam kasus penahanan Bibit-Chandra.


http://nusantaranews.wordpress.com/2009/10/31/fakta-fakta-kemunafikan-polri-dala\
m-mengasuskan-bibit-dan-chandra/

Ini artikel yang sederhana, lugas dan informatif. Saya tidak tahu persis siapa penulisnya. Tapi, nampaknya bukan wartawan atau setidaknya bukan wartawan yang bekerja di media mainstream.

Jika benar begitu, kita, khususnya para wartawan, selayaknya malu kepada penulis tersebut. Rasa malu itu perlu ditebus dengan memperbanyak tulisan model begini: sederhana, lugas, informatif.

Apa pentingnya?

Beberapa hari ini saya bertemu dengan orang-orang (yang cukup berpendidikan) tapi tidak tahu benar apa yang sebenarnya terjadi.

Saya, misalnya, bertemu dengan seorang karyawan JP Morgan, lembaga keuangan internasional, yang bertanya-tanya mengapa kasus ini menjadi besar. Dia juga tidak paham Skandal Bank Century, serta apa kaitannya dengan kisruh KPK ini.

Saya juga kaget ketika istri saya, seorang dokter, bertanya tentang Century. Dia sama sekali gelap tentang yayasan yang disebut dalam artikel ini, dan soal dana kampanye para kandidat presiden, sebenarnya punya kaitan dengan kasus KPK ini.

Lebih banyak lagi orang, saya kira, yang cukup berpendidikan seperti teman dan istri saya itu, tapi tidak benar-benar paham. Bahkan termasuk mereka yang marah kepada Presiden Yudhoyono dalam kasus ini.

Orang-orang ini mungkin terlalu sibuk, sehingga tidak cukup waktu untuk menyelami masalah atau mengikuti berita. Tapi, di sisi lain, kita para wartawan mungkin perlu introspeksi: berita yang disajikan koran/majalah/televisi memang lebih cenderung MEMBINGUNGKAN KETIMBANG MENJELASKAN.

Ada setidaknya dua kemungkinan:

1. Karena wartawan hanya menyajikan berita permukaan, sekadar sensasional, tapi tidak menukik ke dasar persoalan. Alasan lain: wartawan dan redakturnya sendiri tidak mengerti persoalan, atau terjatuh dalam trivialisme (pada hal yang remeh-temeh) dan sesasi belaka, sumber utama dari rating televisi.

2. Rendahnya ketrampilan di kalangan wartawan untuk bisa menyajikan berita yang rumit secara sederhana dan informatif.

Dua kemungkinan itu mewakili kelemahan jurnalisme (jika tidak bisa disebut DOSA jurnalisme).

Demokrasi, dan kedaulatan rakyat, yang berkualitas menuntut adanya publik yang memperoleh informasi berkualitas namun sekaligus mudah dicerna. Mendalam, substansial, tapi renyah.

Ini makin penting dalam era ketika informasi justru demikian mudah didapat (koran, televisi, onlinem facebook). Informasi tak berkualitas hanya akan menjadi "noise", bunyi-bunyian tanpa makna, yang justru mengaburkan informasi berkualitas.

Ini juga penting pada era ketika orang makin sedikit punya waktu untuk membaca dan menyimak berita.

Jika publik tidak paham suatu persoalan yang penting (seperti Skandal Bank Century dan skandal dana kampanye para presiden), dosa terbesar terletak pada media. Koran/televisi sebetulnya belum menunaikan tugasnya dengan baik.

Tak hanya media. Dosa juga terletak pada kalangan ilmuwan, dalam hal ini ekonom, yang gagal membuat penjelasan sederhana. Mereka bicara dengan bahsa asing, istilah teknis, terlalu banyak jargon, bahasa berbelit-belit dan terlalu abstrak.

Skandal subsidi dana publik senilai Rp 600-700 trilyun ke dalam perbankan pada 1998-99, yang kini kita kenal sebagai BLBI dan obligasi rekap, rupanya belum menjadi pelajaran. Banyak orang, bahkan yang berpendidikan, saya kira tidak pernah paham apa yang sebenarnya terjadi dan apa konsekuensinya bagi negeri ini, terutama rakyat miskin negeri ini.

Mudah-mudahan kali ini kita bisa belajar.

salam,
fgaban


***

Mantap tenan. Gaji kecil, tapi harus kerja profesional. Oh jurnalis dambaan, dimana bisa kutemukan?

Jadilah Pewarta Yang Tidak Fasik

Kamis, 29 Oktober 2009

Menjadi dosa besar bagi seorang jurnalis, mewartakan sesuatu tanpa melalui proses verifikasi yang sahih. Setelah dapat info bombastis, bom langsung dilemparkan ke publik. Apa jadinya?

Memeriksa kebenaran berita, walau jelas perlu ketekunan dan mungkin sesekali ngotot-ngototan, adalah kemestian. Tak boleh tidak.

Narasumber punya hak untuk menyampaikan sudut pandang yang mungkin berbeda dengan keinginan kita (maunya sih narsum ini kagak usah ngomong sekalian, dah ketauan boongnya, misalnya ...).

Orang fasik yang jadi wartawan, menurut saya, sangat berbahaya. Bisa-bisa realitas dibungkus dan disajikan sesuai kehendak. Lebih berbahaya lagi kalau wartawannya fasik, narsumnya pendusta.

Entahlah, semakin ke belakang semakin sulit percaya apa yang terhidang di media ...

Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu

Bagus juga kalau sempat baca dakwatuna.com berikut ini, di sini.

Terhadap Segala Sesuatu (Termasuk Facebook), Bijaklah!

Rabu, 28 Oktober 2009

NASEHAT dibalik fenomena FACEBOOK

Ketika aib seseorang ditunggu-tunggu ribuan bahkan jutaan pembaca dalam berita-berita media massa...

Ketika seorang celebritis dengan bangga menjadikan kehamilannya di luar pernikahan yang sah sebagai ajang sensasi yang ditunggu-tunggu ...'siapa calon bapak si jabang bayi?'

Weleh-weleh, ,......mungkin kita bisa berkata; "ya wajarlah artis, kehidupannya ya seperti itu, penuh sensasi". Kalau perlu dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitasnya diberitakan dan dinikmati oleh publik.

Wuiiih...... ternyata sekarang bukan hanya artis yang bisa seperti itu, sadar atau tidak, ribuan bahkan jutaan orang saat ini sedang menikmati aktivitasnya [apapun] diketahui orang, dikomentarin orang bahkan [mohon maaf].. dilecehkan' orang. Dan lebih herannya perasaan yang didapat adalah kesenangan,, .

Fenomena itu bernama FACEBOOK.

Setiap saat para facebooker meng-update statusnya agar bisa dinikmati dan dikomentarin lainnya. Lupa atau sengaja, hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga atau rahasia menjadi kebanggaan di statusnya.

Mungkin beberapa contoh status facebook bisa diperhatikan dibawah ini:

Seorang wanita menuliskan "Hujan-hujan malam-malam sendirian, enaknya ngapain ya.....?"--- ---kemudian puluhan komen bermunculan dari lelaki dan perempuan, bahkan seorang lelaki temannya menuliskan "mau ditemanin? Dijamin puas deh..."

Seorang wanita lainnya menuliskan " Bangun tidur, badan sakit semua, biasa....habis malam jumat ya begini...:" kemudian komen2 nakal bermunculan. ..

Ada yang menulis "Bete nih di rumah terus, mana misua jauh lagi....", ----kemudian komen2 pelecehan bermunculan.

Yang laki-laki tidak kalah hebat menulis statusnya "Habis minum jamu nih...., ada yang mau menerima tantangan ?'----langsung berpuluh2 komen datang.

Ada yang hanya menuliskan, "lagi bokek, kagak punya duit..."

Ada juga yang nulis " mau tidur nih, panas banget...bakal tidur pake dalaman lagi nih" .

.... dan ribuan status-status yang numpang beken dan pengin ada komen-komen dari lainnya yg tidak pantas dilakukan oleh seorang mukmin seperti kita.

Dan itu sadar atau tidak sadar dinikmati oleh indera kita, mata kita, telinga kita, bahkan pikiran kita.

Ada lagi yang lebih kejam dari sekedar status facebook, dan herannya seakan hilang rasa empati dan sensitivitas dari tiap diri terhadap hal-hal yang semestinya di tutup dan tidak perlu di tampilkan.

Seorang wanita dengan nada guyon mengomentarin foto yang baru saja diupload dialbumnya, foto-foto saat SMA dulu setelah berolah-raga memakai kaos dan celana pendek.....padahal sebagian besar yg ada didalam foto tersebut saat ini sudah berjilbab.

Ada seorang wanita meng-upload foto temannya yang sekarang sudah berubah dari kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan islami, foto saat dulu jahiliyah bersama teman2 prianya bergandengan dengan ceria....

Ada pula seorang pria meng-upload foto seorang wanita mantan kekasihnya dulu yang sedang dalam kondisi sangat seronok padahal kini sang wanita telah berkeluarga dan hidup dengan tenang.

Rasanya hilang; apa yang telah diajarkan seseorang yang sangat dicintai Allah SWT...., yaitu Muhammad Rasulullah SAW kepada umatnya, seseorang yang sangat menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya. Ingatkah kita ketika Rasulullah bertanya pada Aisyah r.ha

" Wahai Aisyah apa yang dapat saya makan pagi ini?" maka Aisyah menjawab " wahai Rasulullah, sesungguhnya tidak ada yang dapat kita makan pagi ini". Rasulullah dengan senyum teduhnya berkata "baiklah Aisyah, aku berpuasa hari ini".

Jadi, tidak perlu orang tahu bahwa tidak ada makanan di rumah Rasulullah.

Ingatkah kita; Abdurrahman bin Auf r.a mengikuti Rasulullah berhijrah dari Mekah ke Madinah, ketika saudaranya menawarkannya sebagian hartanya, dan sebagian rumahnya,

maka abdurahman bin auf mengatakan, tunjukkan saja saya pasar. Kekurangannya tidak membuat beliau kehilangan kemuliaan hidupnya. Bahwasanya kehormatan menjadi salah satu indikator keimanan seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Malu itu sebagian dari iman". (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan fenomena di atas menjadi Tanda Besar buat kita, hegemoni `kesenangan semu' dan dibungkus dengan `persahabatan fatamorgana' ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam facebook yang melindas semua tata krama tentang Malu, tentang menjaga Kehormatan Diri dan keluarga.

Rasulullah SAW menegaskan dengan sindiran keras kepada kita

"Apabila kamu tidak malu maka perbuatlah apa yang kamu mau." (HR. Bukhari).

Maka jagalah kehormatan diri, jangan tampakkan lagi aib-aib masa lalu. mudah-mudahan Allah menjaga aib-aib kita.

Maka jagalah kehormatan diri kita, simpan rapat keluh kesah kita, simpan rapat aib-aib diri, jangan bebaskan `kesenangan' , `gurauan' membuat kehormatan kita luntur tak berbekas.

Beberapa orang sering dgn mudahnya meng-up date status mereka dgn kata-kata yg tidak jelas; entah apa tujuannya selain untuk numpang beken, cari perhatian dan pengin ada komen-komen dari lainnya".

> Dingin . . .

> B.E.T.E. . . .

> Kangen . .

> Puanass buaget neh !

> Arghhh .. . !!!!

> Gile tuh org !

> . . .

> Aku masih menanti . . .

etc....

Mari kita jaga martabat dan akhlaq kita sbg orang iman dg selalu menjaga segala sesuatu yg tdk pantas kita lakukan..

Semoga Alloh memberikan selalu pencerahan iman untuk kita smua, amien.

Alhamdulillahi jazaa kumullohu khoiron.

[by ishaq m ]

Yossiwahyo

Destinationheavenin donesia.blogspot .com


[dari milis Forum Lingkar Pena - FLP; Posted by: "mila kartina" adx210@yahoo.com
Wed Oct 21, 2009 10:28 pm (PDT)
dari milis sebelah...
--- On Sun, 10/18/09, yossiwahyo wrote:
From: yossiwahyo
Subject: [daarut-tauhiid] NASEHAT dibalik fenomena FACEBOOK (perhatian bagi kita)
To: daarut-tauhiid@ yahoogroups. com
Date: Sunday, October 18, 2009, 2:20 PM]

Para Ibu, Bekerjalah!

Seharusnya tidak jadi polemik, apakah seorang perempuan bekerja atau tidak. Karena mau di luar rumah ataukah just at home, perempuan memang harus bekerja!

Tapi yang harus digarisbawahi, ketika ia memilih keluar ataupun berdiam, pilihan apapun harus dilandasi oleh kepahaman. Bukan semata "harus bekerja (di luar)", karena semua orang toh melakukannya.

"Elo neh, ngurusin domestik melulu!" begitu sergah seorang teman.

"Yak iyalah. Publik kan udah banyak yang ngurusin. Domestikku memangnya bisa diurusin publik."

Segala sesuatu ada waktunya.

Ada waktunya harus lari sprint. Tapi ada waktunya harus lari kecil.

Untuk saat ini, ada amanah-amanah Allah SWT yang tidak bisa saya delegasikan.

Dan tak ada pihak yang layak dizhalimi.

Posting Coba-coba

Selasa, 27 Oktober 2009

Memang begitu adanya. Ini posting coba-coba setelah beberapa posting terakhir tak bisa masuk via Compose.

Betapa banyak yang harus dipelajari - dengan kecepatan dan ketepatan belajar luar biasa - sedangkan pada saat yang sama perkembangan ilmu bagaikan geledek badai lupit.

Oke, harus segera berangkat untuk "belajar" pekanan.

Yuk!

Anak Bisa Minum Obat Sendiri

Jumat, 16 Oktober 2009

Jangankan anak-anak, wong tuwek aja banyak yang susah minum obat.

Pengalaman saya dengan Tsaqifa, si 3 tahun, mungkin bisa dicoba oleh orangtua yang kesulitan membujuk anaknya agar mau minum obat.

Sebetulnya saya belum 'sangat risau' waktu demam Iffa, panggilan si hidung bulat anak keduaku ini, masuk hari kedua. Tapi nenek tea yang ngomel-ngomel. "Takutnya tifus atau usus buntu. Coba ke dokter dulu," begitulah nenek sayang cucu ...

Singkat cerita jumpa bu dokter baik yang memberi obat bukan resep (jadi nggak perlu ke apotek lagi). Satu botol obat mual plus 9 bungkus puyer yang di dalamnya sudah ada antibiotik. Parasetamol masih ada, yang rasa jeruk dia doyan sekali.

Sudah 'mbatin: Waduh, antibiotik itu alamat "... obatnya harus dihabiskan ya, Bu." Dirayu-rayu dan 'dikondisikan' agar Iffa mudah minum obat, puyer pertama lalu kedua - keesokan harinya - alhamdulillah glek masuk bebas hambatan, walaupun dia mengernyit tanpa komentar. Prosesi ini diakhiri parasetamol rasa jeruk yang sudah dinanti-nantinya. Air putih, selesai sudah.

Waktu saya cicipi, kedua obat dokter itu tidak pahit, cuma ya rasa obat-lah.

Eee.. begitu kali ketiga, walaupun dirayu sedemikian rupa, Si Hidung Bulat emoh minum itu puyer. Terpaksa ... ya dipaksa. Gotong royong dengan sang nenek, obat puyer masuk dengan susah payah karena dia menangis dan meronta-ronta.

Huf, cara ini sungguh tak saya anjurkan.

Malamnya, kejadian sama berulang. Bahkan hingga dia terlelap tidur sambil menyisakan isak, si obat tak sukses masuk perutnya.

Obatnya tak pahit dan dia sukses menenggak dua puyer sebelumnya. Ada apa ini?

***

Tapi besok paginya, entah apa yang membuat Tsaqifa tiba-tiba mengambil botol obat mual, lalu sirup parasetamol dan tak lupa bungkusan puyer, meraciknya sendiri "Tumpah sedikit ga papa ya, Me .." lalu ... lalu ... meminumnya, saudara-saudara.

Selesai dari bengong, saya hujani dia dengan tepuk tangan dan pujian, pelukan, ciuman. "Hebatnya anak Mame ..."

Rupanya dia mendapatkan keasyikan tersendiri waktu menuangkan racikan puyer dari bungkus kertas itu ke sendok takar, lalu mengaduk-aduknya dengan ujung kertas.

Oalah naaak, naak. Anakku rupanya kepingin minum obat sendiri ...