Rabu, 22 Juli 2009

Berkaca Pada Kejadian Marwa


Sebagai muslim, membaca berita seorang muslimah - sedang mengandung 3 bulan - dimaki-maki sebagai teroris dan pelacur, lalu ditikam 18 kali, karena keislamannya, sekali lagi karena keislamannya - baca beritanya di sini - saya pikir sangat wajar jika di dalam sini (saking ga keliatannya, dalem banget ...) ada yang menggelegak.

Marwa, apoteker di Dresden, Jerman, dengan santun membawa pelecehan hak asasinya ke jalur hukum, namun justru menjumpai syahid di sana. Allahu Kariim ...

Menurut saya, Marwa justru jadi potret muslimah revivalis, jadi inspirator untuk tidak sungkan memperjuangkan kebenaran, bahkan jadi inspirator syuhada.

Namun saya yakin syahidnya Marwa akan jadi blessing in disguise..

Suatu saat bila Tsabitah dan Tsaqifa sudah lebih mengerti, saya ingin mereka - dan juga saya sendiri - bisa berkaca pada kasus Marwa. Amin.
Share:

2 komentar:

  1. Kita turut berduka, namun sptnya pelaku bukan representasi mayoritas masyarakat jerman, namun wallahua'lam, kita harus turut prihatin dan senantiasa bersatu...

    makasih atas kunjungannya ya!

    K

    BalasHapus
  2. Satu kejadian tentu saja tidak bisa jadi generalisasi. Namun agak 'mengganggu' karena terjadi di hadapan institusi peradilan ...

    Terimakasih kembali Mr. K

    BalasHapus

Komen apapun berharga. Sila.

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts