Tampilkan postingan dengan label literasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label literasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Desember 2017

Pembingkaian dalam Penyebutan Jumlah Peserta Aksi 212

lewatmana.com
Ini late post setahun lampau yang sudah dimuat di sini. Menggunakan pendekatan kuantitatif agar bisa dibaca seobyektif mungkin. Salam.
***
Berhubung kerjaan tiap hari monitoring berita, ada sisi pemberitaan aksi massa 2 Desember 2016 di Silang Monas dan sekitarnya yang asyik dikaji pembingkaian (framing) media-nya dari sisi penyebutan jumlah peserta aksi  *well, ada yang bilang bukan aksi, bukan demo, tapi doa bersama .. whatever lah ya :D
Penyebutan jumlah peserta aksi dipilih karena merupakan variabel yang paling eksak dibandingkan dengan variabel pembingkaian lain seperti diksi atau kata, kalimat, gambar atau foto yang sangat berpeluang untuk multiterjemah. Mengapa memilih judul tertentu dibanding judul lainnya. Mengapa menyebut 150.000 dan bukan ratusan ribu atau jutaan massa?
Tabel 1. Kompilasi Berita “Jumlah Peserta #212” di Media Online Berbahasa Indonesia
Perbedaan penyebutan jumlah peserta aksi dapat menunjukkan dua esensi analisis framing yaitu pertama, bagaimana peristiwa #212 dimaknai oleh jurnalis dan kedua, bagaimana fakta tersebut dituliskan.
Akan tetapi yang disajikan di sini memang baru berupa hasil rekap monitoring, jadi belum secara komprehensif disempurnakan dengan landasan teori, kerangka pikir, serta hipotesis. Bahkan belum terpikir mau dianalisis pake model pembingkaian Edelman, Entman, Gamson, atau Pan-Kosicki. Pengen sih, suatu saat bisa dirapikan dalam bentuk jurnal. (Aamiin).
Sementara, berikut beberapa catatan hasil monitoring penyebutan jumlah peserta aksi #212:
  • Obyek monitor adalah 22 media online berbahasa Indonesia serta 36 media online berbahasa Inggris yang diupayakan diurut berdasar rank, baik dari sumber tertulis maupun audio-visual (video);
  • Narasumber (narsum) terbanyak yaitu Kepala Divisi Humas Polri Boy Rafli Amar atau jika dari sejumlah media berbahasa Inggris hanya disebut from police agency. Dari Kadiv Humas Polri-lah keluar pernyataan estimasi "150.000-200.000 peserta". Narsum lain adalah dari Gerakan Nasional  Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF) MUI, dari MUI sendiri, dari Plt. Gubernur DKI Soni Sumarsono, serta beberapa narsum minor. Perbedaan pemilihan narsum tentu menghasilkan nominal jumlah peserta yang berbeda pula;
  • Penyebutan nominal peserta aksi pada posting berita yang tak memiliki narsum, diduga didasarkan atas pengamatan atau perkiraan jurnalis di lapangan. Tak ditemukan berita yang menunjukkan ketekunan jurnalis untuk secara metodologis mengestimasi sendiri atau mencari narsum yang berdasarkan metoda perhitungan tertentu bisa mengestimasi jumlah peserta aksi secara lebih akurat (kecuali posting jawapos.com yang mengutip perhitungan seorang blogger berdasar skala citra satelit);
  • Secara khusus, penghitungan estimasi jumlah massa peserta aksi secara lebih akurat – bukan hanya mengutip narasumber – akan meminimalkan potensi mengurang-ngurangkan atau mendegradasi value aksi melalui ‘sedikit’nya jumlah peserta atau sebaliknya meminimalkan potensi melebay-lebaykan value aksi melalui ‘buanyak’nya jumlah peserta aksi. ‘Kemalasan’ ini justru sangat tampak pada jurnalis The Associated Press (AP) serta  Agence France-Presse (AFP) yang notabene menjadi rujukan media internasional di sana dan sini (lihat tabel 2). Thus, aksi #212 secara umum ditasbih oleh para jurnalis sebagai aksi terbesar yang pernah ada di Indonesia.
Senyatanya kompilasi ini masih sangat terbuka pada info tambahan, koreksi, penyempurnaan, serta diskusi beradab (tabel dengan disertai link dan analisis tone, terdokumentasi tapi sayangnya ga bisa ditampilin yah). Monggo koreksiannya. 
*Terimakasih untuk Monitoring Team: Nofra, Umi, dan volunteer Diki. Terus berusaha menemukan yang asyik-asyik dari aktivitas yang truthfully boring, tapi penting ini ;)  Salam Monitor.
Tabel 2. Kompilasi Berita “Jumlah Peserta #212” di Media Online Berbahasa Inggris
#archivepost

Share:

Kamis, 14 September 2017

Teliti Literasi Foto Hoax Rohingya

Teliti Literasi dari Kasus Foto Hoax Rohingya
Detti Febrina | @dettife* 06092017


Apa bahayanya menyebarkan foto-foto hoax pada isu Rohingya? Selain sebagian besar terkategori disturbing pictures/gambar yang tidak nyaman untuk dilihat, namun yang paling berbahaya adalah pengaburan fakta kemanusiaan yang sungguh terjadi di Rakhine State. Alih-alih ingin berbagi kepedulian, ikut menyebarkan foto-foto hoax Rohingya berbahaya karena justru menisbikan empati akan kezaliman yang nyata berlaku.

Kasus salah posting mantan Menkominfo Tifatul Sembiring, sudah diakui oleh yang bersangkutan sebagai kesalahan, adalah contoh segar. Lihat cepatnya diskusi terdistraksi dari bagaimana ringankan derita Rohingya pada bagaimana merundung mantan Menkominfo yang bisa kepleset juga posting hoax.

Pertama-tama yang seharusnya sudah selesai untuk jadi debat adalah fakta kejadian. Organisasi kemanusiaan di bawah United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR) pada Februari 2017 memublikasi dokumentasi perkosaan massal, pembunuhan - termasuk pada bayi dan anak-anak, penganiayaan brutal, penghilangan manusia, dan banyak tindak kekerasan tingkat berat yang dilakukan angkatan bersenjata Myanmar http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=56678#.Wa-bVNgxXYU . [yes, dengan alasan kredibilitas sengaja dipilihkan link dari UN/PBB].

Artinya, isu kemanusiaan Rohingya itu fakta. Bukan hoax. Dari banyak literatur yang bisa diverifikasi, kezaliman ini bahkan sudah bertahun-tahun.

Maka poin kritisnya adalah kemampuan memisahkan hoax dengan kebenaran.

***

Sudah banyak situs maupun grafis yang memberi edukasi tentang bagaimana cara kita mengkritisi hoax/fake news.

"Kritis" sendiri adalah kata kunci dan niscaya dalam literasi informasi.

Rumusnya sederhana: kritisi setiap informasi yang Anda terima, termasuk tentang Rohingya. Jika surat Al-Hujurat ayat 6 dibutuhkan jadi reminder, maka ingatlah bahwa di ayat yang turun 14 abad lalu itu, bahaya hoax disebut sebagai musibah.

Iya kalau musibahnya tertuju pada pelaku kezaliman, jika pada pihak yang terzalimi sama saja kita menimpakan musibah dua kali. Dan itu 'hanya' karena ikut menyebarkan hoax.

Salah satu cara paling populer mengecek foto hoax adalah dengan menggunakan google image reverse. Sila simak langkah-langkahnya di sini http://jateng.tribunnews.com/amp/2017/05/08/begini-cara-google-mengecek-foto-video-apakah-hoax-asli-atau-palsu-baru-ataukah-lama

Selain google, bisa juga memanfaatkan situs https://tineye.com . Dengan memilih "oldest" pada kotak filter, Anda bisa menemukan siapa pengunggah pertama foto tersebut. Pengunggah pertama dapat menunjukkan pada kejadian apa konteks foto tersebut terjadi.

Berikut foto-foto hoax maupun foto kejadian benar terkait Rohingya yang dihimpun tim Crisis Center for Rohingya (CC4R); digrafiskan oleh teman-teman @pksart dengan mengaburkan gambar-gambar yang dinilai terlalu sadis (grafis susulan insya allah akan kami susulkan pula).

Ayo bantu Rohingya dengan tidak ikut menyebarkan foto hoax.

*@dettife | berkhidmat di lingkaran riset dan monitoring media; membantu pengelolaan isu di Crisis Center for Rohingya (CC4R).

Note: 10 foto hoax Rohingya sudah pula diposting Andy Windarto di laman facebooknya. Ga jadi saya share karena banyak disturbing picture, ya. Salam. Moga manfaat.









Share:

Minggu, 21 Mei 2017

Diskursus Pengukuran 7 Juta Status


Posting di blog ini berisi penjelasan lanjut dari posting-posting sambil lalu di medsos dan kompasiana. Untuk menyanggah dan berkomunikasi tentang isu terkait, semua kanal komunikasi dipersila; untuk terhubung di FB, path, atau google+, di versi desktop langsung aja pencet button di sebelah kanan atas screen.

Kalau ada yang belum ngeh dengan isu yang dibahas ini, karena masih mabok honeymoon misalnya ;p , monggo tengok grafis di bawah. Ada beberapa varian, tapi beberapa hari itu seliwar seliwir posting gerakan 7 juta status atau sejenisnya.

***

Ga ngajak berdebat di wilayah ideologis atau keberpihakan (jika kepo soal keberpihakan pun, sila gulir/scroll linimassa saya di FB).

Semata buka diskusi soal teknis.

Keseharian kami di Departemen Riset dan Media Monitoring - bersama teman-teman di Departemen Media Baru - adalah "mengukur" dan "memantau". Jadi: analisis tone, google trend, metrik, digital clip n doc, valuasi berita, update rank, update pageviews, dan sejenisnya sudah menjadi 'siksaan' tersendiri (haha).

Ketika sejumlah posting Gerakan 7 Juta Status bermunculan di facebook - sekali lagi facebook, ya - dengan akhir kalimat begini: kopas, jangan share agar tercapai 7 juta; saya sempat bertanya-tanya, itu ngukurnya pake apa, ya?

Graph API yang bisa mengukur impresi pun hanya bisa dipakai di fanpage dan iklan, bukan akun reguler. Dan yang bisa baca nilai impresi itu kan hanya yang meng-admin-i fanpage. Terlihat misalnya dari "views": People who saw this post.

Untuk fanpage yang ga kita adminin ya ga bisa.

*dalam kasus ini nilai impresi yang dimaksud misalnya: berapa banyak yang malam Minggu ini update status dengan keyword "galau" (haaaatchim ..). Kita pengen tahu berapa banyak orang yang nyebutin kata "galau" di postingan hari itu, jebret lalu keluar datanya.

Ga bisa, facebook belum menyediakan layanan macam itu.

[impresi jenis ini juga disebut PTAT - People Talking About This. Sampai saat ini - tolong koreksi kalau saya salah - belum ada aplikasi berbayar sekalipun yang bisa membaca impresi ini di facebook. Di facebook lho, ya.

Ada sih layanan facebook trend, tapi cuma bisa dipakai di region-region tertentu dan Indonesia ga termasuk di antaranya :((]

Yang rada-rada dekat dengan metrik macam itu di facebook, mungkin dari banyak-banyakan jumlah anggota grup. Dulu kan sering tuh: Gerakan 10 Triliun Facebookers Tuntut Akhiri Pembullyan Jomblo, misalnya - yang sekarang kecenderungannya sudah mulai ditinggalkan.

Berbeda dengan twitter yang lebih mudah masuk jaring metrik dengan ataupun tanpa hashtag/tanda pagar dan bukan hanya dilihat dari trending topic, facebook sampai saat ini tampaknya belum menyediakan layanan seperti itu. Twitter yang konon mulai redup pamornya masih sangat kepake untuk kebutuhan metrik dan analisis.

Apalagi kalau pakai mesin monitoring premium berbayar.

Kalau ada yang pernah lihat di debat pilkada baru lalu ada tv yang nampilin hasil monitoring persepsi dan preferensi netizen. Nah itu pake twitter. Saya pernah tanya ke Mba Rustika Herlambang, yang perusahaan monitoringnya dipake tv itu, apakah ada hasil persepsi dan preferensi dari facebook, dia ga bisa jawab.

Ya, karena memang enggak/belum ada. Seriously, kalo ada aplikasi atau mesin monitoring macam itu, seriously, mau saya jadiin bahan tesis dah.

Ini ada beberapa metrik di medsos beserta beberapa aplikasi gratisannya (eh, kebaca ga ya. Kecil memang pixelnya. Atau boleh search di pinterest). Btw, aplikasi yang ada di infografis ini ga ada yag bener-bener bisa baca PTAT. Quintly sebagaimana yang disebut di situ, useless. Agorapulse -versi gratisan - juga cuma bisa monitoring fanpage.

Monggo coba aja download dan trial sendiri.



Lalu ada juga yang keukeuh soal hashtag/tagar # di facebook. "Di facebook juga ada kok hashtag, makanya posting statusnya jangan lupa pakai hashtag #kamibersamahrs dst ..".

Well, Mba. hestek di facebook itu nyaris macam jadi asesoris saja. Ga seperti hestek di twitter yang secara algoritmis masuk dalam bacaan tren, sehingga ada yang disebut trending topic. Itu adanya di twitter. 

Kalo di fb, postingan-nya mau pake hestek mau engga, ya ga ngaruh. 

***

Thus, bagus juga mungkin ini jadi inputnya Mas Zuckerberg. Buat orang-orang monitoring macam sayah, jelas layanan metrik macam itu di facebook bagai musim semi setelah paceklik .. ga nyambung yess..

Ke Surabaya nyeruput rawon (jauh amat), Yang ga setuju ya sumonggo mawon.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/detti.febrina/diskursus-pengukuran-7-juta-status_5920ef929397738b048b4568

Keren jika dibully karena mempertahankan prinsip (bela ulama misalnya) lalu dengan percaya diri menunjukkan keberpihakan kita di publik, tapi kan sedih kalau dibully karena metodologi dan logika yang naif. Sekali lagi maaf. Ga ada lain, semoga posting ini manfaat; dan masih suangat terbuka terhadap kritik.
Salam monitoring. 

Share:

welcome to detti's blog

communication scholar & practitioner, hopefully being lifetime citizen journalist, simply laid back ambivert

Mengoptimalkan Google Alerts untuk Media Monitoring

Menyusun panduan optimalisasi google alerts ini sekira dua bulan sebelum ramadhan tahun lalu. Belum sempat di- digital archive , apa daya fi...

Popular Posts